Dinsdag 12 Maart 2013

METODE BERFIKIR ILMIAH DAN METODE BERFIKIR LAINNYA

MAKALAH: METODE BERFIKIR ILMIAH DAN METODE  BERFIKIR LAINNYA

TUGAS
                                             MATA KULIAH FILSAFAT
                                    

OLEH
LA  RAPATI :12779133
(SMP NEGERI 17 SAMARINDA)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2013


Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah seru sekalian alam. Dalam makalah ini akan dibahas pentingnya “Metode berfikir ilmiah dan metode berfikir lannya” dengan harapan dapat  mengembangkan wawasan penulis dan memenuhi tugas pembuatan makalah mata kuliah filsafat.
Dalam penyusunan makalah ini tentu tidak bisa lepas dari kesalahan sehingga  penulis menyampaikan maaf. Akhirnya penulis mengucapkan  terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Prabowo, M.Pd sebagai dosen mata kuliah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat berfanfaat bagi penyusun dan para pembaca.  Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

                                                                                Surabaya, 25 Februari 2013


                                                                                Penyusun









DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL  ......................................................................................................      1
LEMBAR PENGESAHAN  ...........................................................................................      2
KATA PENGANTAR  ....................................................................................................      3
DAFTAR ISI  ..................................................................................................................      4
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang  ..........................................................................................................      6
B.     Rumuan Masalah  .......................................................................................................      8
C.     Tujuan  ........................................................................................................................      8
D.    Metode Penulisan  ......................................................................................................      9
E.     Sistematika Penulisan .................................................................................................      9
BAB II PEMBAHASAN
A.    Metode Berfikir Ilmiah  .............................................................................................    11
1.         Pengertian Metode Ilmiah  .................................................................................    11
2.         Syarat-syarat Ilmu Pengetahuan  .......................................................................    12
3.         Model dan Kriteria Metode Berpikir Ilmiah   ....................................................    13
4.         Kelemahan-kelemahan Metode Berpikir Ilmiah  ...............................................    14

B.     Metode Berfikir Lainnya  ...........................................................................................    15
1.         Metode Tenacity dan Metode Authority Ilmiah  ...............................................    15
2.         Metode Apriori  .................................................................................................    16
3.         Metode Positisme  ..............................................................................................    17
4.         Metode Kontemplatif   ......................................................................................    17
5.         Metode Dialektis ................................................................................................    17
6.         Metodologi  Al-Qur’an      .................................................................................    18
BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan  ................................................................................................................    25         
B.     Saran  ..........................................................................................................................    25
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................    26









BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/pengembangan pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada (Eman Sulaeman)
Berpikir ilmiah adalah metode berpikir yang didasarkan pada logika deduktif dan induktif (Mumuh mulyana Mubarak, SE).  
Metode berpikir ilmiah tidak lepas dari fakta kejadian alam yang kebenarannya selalu ada hubungannya dengan hasil uji eksperimental. Jika suatu teori tidak bisa dibuktikan dengan uji eksperimental maka dikatakan bahwa teori itu tidak bisa diyakini kebenarannya karena tidak memenuhi kriteria sebagai sains.  (Goldstein, 1980). Inilah bagian kelemahan tentang berpikir ilmiah.
Kelemahan berpikir ilmiah lainnya seperti cakupan jangkauan kajiannya, dan asumsi yang melandasinya, serta kesimpulannya bersifat relatif, metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada kajian objek-objek material yang dapat diindera. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Secara entologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang membedakan antara ilmu dan agama. (Adib M 2011, hal. 138-140).
Bagi yang berpedoman kepada Al Qur’an maka penggunaan metode ilmiah tidaklah cukup. Keyakinan terhadap kebenaran wahyu tentu melebihi kebenaran ilmiah . Brikut penulis menunjukkan contoh tentang pembuktian ilmiah dari Al Qur’an adalah   surat Ar Rahman ayat 37 yang artinya:
Sesungguhnya langit dipecah kemudian Kujadikannya seperti mawar merah yang berpilin”.
Kemudian dalam Qur’an surat An Anbiya Allah berfirman yang artinya: Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman”.
Kedua ayat ini di sampaikan oleh pesuruh Allah yaitu Nabi Muhammad SAW sekitar 1400 tahun yang lalu yang dasarnya tidak tahu baca tulis (umi), tapi kebenaran ini terjawab setelah abad ke-21 ini.
Agar lebih jelasnya di dalam makalah ini akan dibahas mengenai metode berfikir ilmiah dan metode berpikir lainnya.





B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.             Apa yang dimaksud dengan metode berpikir ilmiah?
2.             Apa syarat-syarat ilmu pengatahuan itu?
3.             Apa model dan kriteria metode berpikir ilmiah?
4.             Apa kelemahan-kelemahan metode berpikir ilmiah?
5.             Bagaimana hubungan metode berpikir ilmiah dengan metode berpikir lainnya?
C. Tujuan Penulisan
            Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka  tujuan penulisan dalam makalah adalah sebagai berikut:
1.              Agar dapat memahami metode berpikir ilmiah
2.             Agar dapat mengetahui syarat-syarat ilmu pengatahuan
3.             Agar dapat mengetahui model dan kriteria metode berpikir ilmiah
4.             Agar dapat mengetahui kelemahan-kelemahan metode berpikir ilmiah
5.             Agar dapat membedakan metode berpikir ilmiah dan metode berpikir lainnya




C.     Metode Penulisan

      Metode penulisan makalah ini adalah studi pustaka, yaitu mempelajari buku-buku sebagai referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian informasi dengan melalui jalur internet.

E. Sistematika Penulisan
      Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.    Rumusan Masalah
C.    Tujuan Penulisan
D.    Metode Penulisan
E.    Sistematika Penulisan
BAB II  PEMBAHASAN
A.   METODE BERPIKIR ILMIAH
1.              Pengertian Metode Berpikir Ilmiah
2.              Syarat-syarat ilmu pengatahuan
3.              Model dan kriteria Metode Berpikir Ilmiah
4.              Kelemahan-kelemahan Metode Berpikir Ilmiah
5.              Metode berpikir lainnya
D.       METODE BERPIKIR  LAINNYA
1.              Metode Tenacity dan Metode Authority
2.              Metode Apriori
3.              Metode Positisme
4.              Metode Kontemplatif
5.              Metode Dialektis
6.              Metodologi  Al-Qur’an
BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.    Saran
DAFTAR PUSTAKA









BAB II
PEMBAHASAN
A.  Metode Berfikir Ilmiah
1.        Pengertia Metode Berpikir Ilmiah
            Berpikir ilmiah adalah metode berfikir yang di dasarkan pada logika deduktif dan induktif (Mumuh mulyana Mubarak, SE). Berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris, dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. (Hillway, 1956).
            Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/pengembangan pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada (Eman Sulaeman)
Berpikir imiah bukanlah berpikir biasa. Berpikir ilmiah adalah berpikir yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara yang berdisiplin, di mana seseorang yang tidak akan membiarkan ide dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah namun semuanya itu diarahkan pada satu tujuan tertentu. Tujuan tertentu dalam hal ini adalah pengetahuan. Berpikir keilmuan, atau berpikir sungguh-sungguh adalah cara berpikir yang didisiplinkan dan diarahkan kepada pengetahuan.
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan) atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
            Terhadap cara untuk mengetahui dan memahami sesuatu, Babbie (1992) berpendapat: “science is method of inquiry-away of learning and knowing things about the world around us”. Dengan demikian untuk memahami dan mempelajari sesuatu yang terjadi di sekeliling kita terdapat banyak cara. Walaupun demikian ilmu tetap memiliki ciri tertentu, yang sesungguhnya ciri tersebut berada dalam  berbagai aktivitas yang dilakukan sehari-hari.  (Adib, 2011, hal. 130-135)
          
2.        Syarat-syarat ilmu pengatahuan
 Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
a.              Objektif ialah kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
b.             Metodis  berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
c.              Sistematis ialah mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.
d.             Universal ialah kebenaran yang bersifat umum. Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

3.        Model dan Kriteria Metode Berpikir Ilmiah
Ditinjau dari sejarah berpikir manusia, terdapat dua pola berpikir ilmiah. Yang pertama adalah berpikir secara rasional, di mana berdasrkan paham rasionalisme ini, ide tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Dengan kata lain, ide tentang kebenaran, yang menjadi dasar bagi pengetahuan, diperoleh lewat berpikir rasional, terlepas dari pengalaman manusia.    (Bayu'zu 2011, hal. 1)
                  Cara berpikir ilmiah yang kedua adalah empirisme. Berbeda dengan orang-orang yang berpikir secara rasional. Menurut orang-orang yang berpaham empirisme ini, pengetahuan ini tidak ada secara apriori di benak kita, melainkan harus diperoleh lewat pengalaman.
                  Adapun kriteria metode berpikir ilmiah antara lain: (1) berdasarkan fakta; (2) bebas dari prasangka; (3) menggunakan prinsip-prinsip analisis; (4) menggunakan hipotesis; (5) menggunakan ukuran objektif; (6) menggunakan teknik kuantifikasi. (Adib, M. 2011, hal. 137-138)
4.        Kelemahan-kelemahan Metode Berpikir Ilmiah
                  Pertama, metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada penuh kajian objek-objek material yang dapat diindra. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang asli. Melakukan pengamatan terhadap materi tersebut serta berbagai kondisi dan faktornya yang ada, baik yang alami maupun yang telah mengalami perlakuan. Dari proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa fakta material yang dapat diindera.
                  Kedua, metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapuasan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kemudian  memulai  pengematan dan percobaan atas materi..Setelah melakuakan pengamatan dan percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan berdasarkan sejumlah premis ilmiah.
                  Ketiga, kesimpulan yang didapat  ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan). Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Misalnya, “Pertama-tama ilmu ilmu menyadari bahwa masaslah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat kongkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara entologi, ilmu membatasu dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang membedakan antara ilmu dan agama. Perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan perbedaan metode dalam memecahkan masalah tersebut”.
                  Dinyatakan pula, “proses pengujian ini tidak sama dengan pengujian ilmiah yang berdasarkan kepada tangkapan pancaindera, sebab pengujian kebenaran agama harus dilakukan oleh seluruh aspek kemanusiaan kita seperti penalaran, perasaan, intuisi, imajinasi disamping pengalaman”. Demikian juga halnya dengan bidang bidang sastra yang termasuk dalam humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuannya”.
                 
B.       Metode Berpikir Lainnaya

1.    Metode Tenacity dan Metode Authority
                  Metode ini mengajarkan agar seseorang bertahan dengan pendiriannya. Tiap orang menurut metode ini harus memegang teguh apa yang ia yakini. Secara praktis metode ini menjanjikan ketenangan dan keamanan. Jika seseorang dibiarkan hidup dan berpikir menurut keyakinannya, maka ia akan puas dengan dirinya sendiri. Namun metode ini merupakan pendekatan yang paling miskin dari semua jenis metode karena dengan metode ini  seseorang tidak diajak untuk berpikir dan mengajukan pertanyaan apa pun terhadap keyakinan-keyakinannya.                      Metode yang lebih baik dari method of tenacy adalah method of authority (kebenaran berdasarkan otoritas).  Kebenaran menurut metode ini berasal dari institusi yang memiliki wewenang untuk mengajarkan banyak orang untuk beripkir sendiri dan melarang setiap penelitian pribadi. Institusi cenderung menuntut ketaatan individu. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah bahwa secara intelektual setiap orang adalah hamba institusi. Dengan metode ini seseorang sudah mulai mempertanyakan sesuatu, namun ia tidak mau memikirkan jawabannya. Otoritas masih masih menjadi sumber utama bagi jawaban atas pertannyaan-pertanyaan.
2.    Metode Apriori
                  Menurut metode ini seseorang dapat menerima pandangan apa pun jika sesuai dengan pikirannya tanpa harus dibuktikan dengan fakta-fakta empiris yang dapat diamati. Metode ini jelas lebih baik dibandingkan metode pertama dan kedua, meskipun harus diakui metode ini gagal menjelaskan fakta-fakta empiris dengan baik. Dengan metode ini setiap orang mulai mengajukan pertanyaan, menemukan jawabannya sendiri tetapi jawabannya tidak mendasar.  Hal ini disebabkan terutama karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sebagian ditentukan oleh selera pribadi.
                  Metode ini membiarkan alam menampakkan diri dan berbicara kepada ilmuwan. Alam yang diselidiki adalah dunia yang real, yang sama sekali tidak bergantung  pada pandanga kita terhadapnya, dan memiliki hukum-hukum yang tetap. Sementara itu, setiap orang dapat mengenalnya karena ia memiliki pemikiran sendiri dan pengalaman yang memadai. Maka dengan metode ilmiah, seseorang diajak untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya berdasarkan pengalamannya tentang alam.  (Adib M, 2011, hal. 90-91)

3.    Metode Positisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-18570. Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengesampingkan segala uraian di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia mrnolak metafisika, Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
4.    Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda, harusnya dikembangkan satu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontenplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Gazali.
5.    Metode Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat.  Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Pidato mengartikannya diskusi logika. Kini dialekta berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam dan metode peraturan, juga analisis sistematika tentang ide mencapai apa yang terkandung dalam pandangannya.
Hegel menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas dari itu. Menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dan dialektika di sini berarti hal-hal yang berlainan seperti :
1.        Diktator. Di sini manusia diatur dengan baik, tapi eka tidak punya kebebasan (tesis).
2.         Keadaan di atas menamakan lainnya yaitu negara anarki (anti tesis) dan negara-negara tanpa batas, tetapi hidup dalam, kekacauan.
3.         Tesis dan anti tesis ini disintesis yaitu, negara demokrasi. Dalam bentuk ini kebebasan warga negara dibatasi oleh undang-undang dan hidup masyarakat tidak kacau. (Namja, 2012)
6.    Metodologi  Al-Qur’an
Sebagaimana kita ketahui bahwa isi Al-Qur’an ini ada dua, yaitu Nur dan Dzulumat. Mari kita bahas tentang model berpikir Dzulumat sebagai tantangan.
              Arti Surat Al-Baqarah ayat 17 menjelaskan metodologi Al-Qur’an sebagai berikut:
“Perumpamaannya mereka yang Dzulumat itu panaka orang yang menyalakan api unggun di malam hari. Maka manakala api telah menyinari sekelilingnya, Allah sepertihalnya memadamkan sinar terang , (begitu menghapuskan Nur menurut Sunnah Rasul-Nya, terhadap mereka yang tenggelam dengan angan-angan subyektivismenya) dan membiarkan mereka tenggelam kedalam pilihan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin sehingga mereka tidak lagi berpandangan dengan Nur menurut Sunnah Rasul-Nya dalam kehidupan”.
Jadi berdasar Al-Qur’an ada dua metode ilmu yaitu metode Nur lawan metode Dzulumat. Methode Dzulumat itu terbagi dua juga yaitu Idealisme dan Naturalisme.
Idealisme : Plato sebagai pencipta idealisme digambarkan dalam bukunya Ahli-Ahli Pikir Besar tentang Negara dan Hukum, Penyususn Von Schmid Penterjemah :
Pada permulaan buku ketujuh tentang “Negara”, Plato telah mencoba menerangkan sekali lagi dengan jelas secara ibarat yang indah sekali, teorinya tentang ilmu pengetahuan yang telah diuraikan lebih dahulu dalam bukunya yang keenam. “Disitu ia membayangkan manusia di dunia ini sebagai makhluk yang sejak lahirnya dirantai dalam sebuah gua yang dimasuki cahaya matahari sedemikian rupa, sehingga makhluk itu tidak dapat bergerak dan hanya dapat mengarahkan pandangannya ke jurusan gua itu saja. Dibelakang makhluk yang dirantai itu, diluar gua tersebut, menyala api dan antara api dan gua itu bergerak disepanjang jalan yang terjal, dibelakang subuah tembok, orang-orang yang memikul barang-barang sedemikian rupa sehingga hanya barang-barang itu saja yang tampak dari sebelah tembok tersebut. Barang-barang yang bermacam-macam itu melemparkan bayang-bayangnya kedalam gua. Bayang-bayang itu adalah satu-satunya yang dapat dilihat oleh orang-orang yang dirantai itu, sehingga mereka akan menganggapnya sebagai kenyataan yang sebenarnya. Dengan orang-orang yang dirantai itulah kita harus menyamakan menusia mengenai hubungannya dengan dunia sekitarnya.
Selanjutnya Socrates menggambarkan bagaimana manusia akan berbuat, bila mana ia telah dibebaskan dari rantainya tiba-tiba ditempatkan diluar gua berhadapan dengan cahaya dan gejala-gejala sesungguhnya itu. Bagaimana ia pada awalnya silau sama sekali, lambat laun harus membiasakan diri pada keadaan baru itu dan cenderung menganggap bayang-bayang dalam gua itu sebagai yang lebih mendekati yang sebenarnya dari pada kenyataan baru itu, dan berangsur-angsur akan mengerti hubungan yang ada antara bayangan-bayangan dalam gua itu dan kenyataan yang ada di luar gua tersebut. Baru kemudian dia akan gembira tentang hal-hal yang baru itu dan tidak akan menghiraukan lagi fikiran orang-orang yang hanya melihat dalam gua saja, demikian pula ia tidak menghiraukan lagi pendapat-pendapat mereka yang berbeda satu sama lain tentang semuanya yang terjadi disana. Jikalau ia ditempatkan kembali di dalam gua itu, mula-mula akan lebih kurang penglihatannya dari yang lain-lain, oleh karena penglihatannya dirintangi oleh kegelapan, dan ia akan dihina, serta keterangannya tentang kejadian-kejadian yang sebenarnya akan ditertawakan orang saja, sehingga ia akan ingin kembali ke dunia luar gua itu, sedangkan orang-orang yang lain tak akan sudi mengikutinya oleh karena menganggapnya orang yang sama sekali sudah terpesona.
Gua dibawah tanah itu adalah dunia yang dapat dilihat, api yang menyala itu adalah cahaya matahari, sedangkan orang tawanan yang membumbung ke dunia atas dan melihatnya adalah jiwa yang naik ke dunia pengertian.
Dalam dunia-jiwa yang tinggi dan dikala itu Plato berusaha membentuk susunan serba cita yang logis yang dapat diperolehnya dengan jalan uraian-uraian dan dialektik.
Singkatnya Idealisme satu metode yang tidak mempercayai kenyataan yang dihadapinya. Bagi Idealisme kebenaran itu tidak terletak pada materi, tapi kebenaran itu hanya ada pada idea atau cita diluar alam yang nyata ini.
Naturalisme : Apa yang digambarkan oleh Bung Hata sebanrnya itulah metode Naturalisme, hanya dengan menggunakan istilah yang berbeda tapi maksudnya sama. Pandangan Naturalisme ini terbagi dua yaitu Macro atomisme dan Micro atomisme.
Macro atomisme adalah pandangan tehadap alam besar, dimana pandangan ditujukan kepada benda-benda langit kemudian ditarik kesimpulan bahwa alam hagad raya ini beredar demikian tertibnya, masing-masing planet beredar menurut garis edarnya masung-masing. Dari hasil pengamatan ini melahirkan pandangan hidup Individualisme yaitu kesimpulan bagi kehidupan social manusia jika mau beres masing-masing orang atur dirinya sendiri, jangan usil orang lain. Itulah sebabnya dalam kenyataan kita lihat bahwa ada orang Islam, tapi hidupnya individu, tidak peduli terhadap sesama manusia.
Micro atomisme adalah pandangan terhadap alam kecil atau alam mikro. Pandangan Micro atomisme ditujukan kepada tubuh manusia diselidiki yaitu pandangan ditujukan terhadap bagian-bagian dari tubuh manusia, sehingga kesimpulannya adalah tubuh manusia itu terdiri bagian terkecil yaitu cel yang diorganisir dalam klas-klas. Ada klas kepala, ada klas tangan ada klas mata, ada klas kuping, klas mulut, klas kaki dan sebagainya. Namun dari semua klas itu yang paling berkuasa adalah klas otak. Dibuktikan jika klas perut ingin mengelaurkan air seni, maka lewat urat saraf dikontek ke otak melalui hati, maka semua klas yang ada pada tubuh itu harus tunduk pada perintah otak,
Ketika masuk WC, walaupun klas hidung protes karma bau WC, tapi tidak dapat memisahkan diri dari tubuh yang satu itu.
Dari hasil pengamatan Micro Atomisme itu maka lahirlah kehidupan kasta, yaitu kehidupan menurut klas manusia. Pandangan hidup ini disebut dengan istilah Kolektivisme.
Methode NUR menurut sunnah Rasul, memberikan jawaban yang telak terhadap metode Dzulumat, bahwa manusia itu tidak bisa apa-apa selain mencontek yang sudah ada. Dengan bahasa yang extrim, manusia itu hanya bisa menjadi maling Ilmu dari Ajaran Allah yang Nur menurut Sunnah Rasul-Nya.
Seluruh ayat Al-Qur’an adalah bersudut Nur yaitu dari Allah untuk menerangkan alam semesta yang tergantung pada kepastian Allah.
Itulah sebabnya kenapa Bung Hata mengatakan bahwa perbedaan antara Ilmu dan Agama ialah bahwa agama itu masalah hati sedangkan Ilmu masalah otak.
Bagi manusia yang belum kenal metode Nur, pandangan ini di-iyakan. Padahal Agama itu arti sebenarnya A=tidak GAMA = kacau jadi agama adalah satu system hidup yang tidak kacau. Jikalau pengertian Agama seperti itu, ada kemungkinan bisa dipakai untuk menterjemahkan kata AD-DIIN. Tapi kalau agama sama dengan kepercayaan, yah pastilah seperti apa yang dianut oleh Bung Hata tersebut.
Kesimpulan yang dapat kita tarik, bahwa sebenarnya Al-Fatihah sebagai pandangan umum jika kita mau pinjam istilah metode deductif maka setiap membaca surat Al-Fatihah maka kita berada pada pada sudut memandang secara umum yang perinciannya ada pada isi Al-Qur’an semuanya.
Sebaliknya jika kita sedang membaca surat-surat dalam al-Qur’an maka perlu disadari bahwa kita memahami pada bagian demi bagian, yang kalau mau meinjam istilah metode inductif maka kita sedang berada pada pandangan satu persatunya.
Namun baik Al-Fatihah, maupun Al-Qur’anul’adhiim dua-duanya harus ayat-ayatnya dari Allah untuk menerangkan alam semesta yang tergantung pada Kepastian Allah. Konkritnya, semua ayat al-Qur’an harus dalam posisi NUR yaitu segitiga ABC dimana sudut A adalah Allah sebagai Subjek, sudut B adalah Al-Qur’an dan sudut C adalah sudut alam semesta yang tergantung pada kepastian Allah.  Menjadi pertanyan bagi kita bagaimana dengan Ilmu Tauhid? Ayat-ayat Al-Qur’an dari Allah kemudian mereka balikkan untuk membicarakan Allah adalah non ilmiyah.



Surat Yunus ayat 5 menegaskan :
Artinya:
“Dia (Allah) yang sepertihalnya membikin matahari memancarkan sinar terang dan rembulan memntulkan sinar terang (mencapai bumi pada permukaan malam kelam) yakni Dia memastikan yang demikian menjadi berbagai posisi guna memberikan satu ilmu tentang Kalenderiasi dan Matematika dimana Allah tidak menciptakan demikian kecuali menjadi obyektif ilmiyah, begitu menurunkan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul ini guna mengklasifikasikan pembuktian-pembuktian ilmiyah bagi golongan manusia yang mau memiliki ilmu agung”
Dari surat Yunus ayat 5 diatas dapat kita sket segitiga ABC, dimana Allah telah mencipta Matahari bulan dan Bumi itu dilambangkan pada sudut A sedangkan Al-Qur’an ada pada sudut B dan alam semesta ada pada sudut C. Dipermukaan gelap ada juga segitiga BDC yaitu segitiga bayangan yang berporos kepada subyektivisme manusia yang oleh Plato dilambangkan dalam gua. Inilah sandiwara kehidupan manusia, Nur lawan Dzulumat diatas satu panggung kehidupan alternative manusia. Sekaligus menjadi jawaban bagi kita, kenapa jika terjadi gerhana, Mukmin/Muslim disuruh shalat oleh Allah, karena pada waktu gerhana posisi Matahari, Bulan dan Bumi ada pada satu garis sehingga terjadi kegelapan sistemik, maka Mukmin/Musim disuruh shalat sebagai satu jawaban, biarpun alam pada posisi Dzulumat, tapi saya tetap pada posisi Nur Menurut Sunnah Rasul-Nya.  (Hatta, 2010)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya berfikir ilmiah adalah berfikir yang logis dan empiris.yang dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Namun berpikir  ilmiah memiliki kelemahan  mencakup  jangkauan kajian, asumsi yang melandasi, serta kesimpulannya bersifat relatif. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada kajian objek-objek material yang dapat diindera.
B. Saran
Dalam melakukan sebuah penelitian, sebaiknya digunakan metode yang tepat. Salah satu metode yang sering digunakan adalah metode ilmiah. Dengan metode ini dapat mengungkapkan dan mengembangkan ilmu. Namun bukan berarti kita mengabaikan metode ilmu yang lain yang  keberadaanya merupaka sebuah pondasi keyakinan  seorang manusia yang secara pelan-pelan kebenaran ilmiahnya sudah terungkap satu demi satu. Contohnya tentang kejadia alam semesta beserta isinya.






DAFTAR PUSTAKA

Adib M, D. M. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI).
Adib, D. H. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bayu'zu. (2011, Desember). Definisi Ilmu Pengetahuan. Dipetik Februari Kamis, 2013, dari http://tugasteknikmesin.blogspot.com.
Goldstein, M. G. (1980). How We Know. New York: Exploration of the Scientific Process.
Hatta, M. (2010, Februari). Metode Ilmu. Dipetik Maret 1, 2013, dari http://www.metodeilmu.blogspot.com/
Ilmiah, G. (2012, Maret). Definis Berpikir Ilmiah. Dipetik Maret 2013, dari http://galeriilmiah.wordpress.com
Moh.MA, A. D. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Namja, A. (2012, Oktober). Shvoong.Com. Dipetik Maret 2013, dari http//www.id.ahvoong.com

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking