MAKALAH: METODE BERFIKIR ILMIAH DAN METODE
BERFIKIR LAINNYA
TUGAS
MATA KULIAH FILSAFAT

OLEH
LA
RAPATI :12779133
(SMP NEGERI 17 SAMARINDA)
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2013
Kata
Pengantar
Segala
puji bagi Allah seru sekalian alam. Dalam makalah ini akan dibahas pentingnya “Metode
berfikir ilmiah dan metode berfikir lannya” dengan harapan dapat mengembangkan wawasan penulis dan memenuhi
tugas pembuatan makalah mata kuliah filsafat.
Dalam penyusunan makalah ini tentu tidak bisa lepas
dari kesalahan sehingga penulis menyampaikan
maaf. Akhirnya penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Prabowo, M.Pd sebagai dosen mata
kuliah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat berfanfaat bagi penyusun dan para
pembaca. Assalaamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh.
Surabaya,
25 Februari 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ...................................................................................................... 1
LEMBAR
PENGESAHAN ........................................................................................... 2
KATA
PENGANTAR .................................................................................................... 3
DAFTAR
ISI .................................................................................................................. 4
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang .......................................................................................................... 6
B. Rumuan
Masalah ....................................................................................................... 8
C. Tujuan ........................................................................................................................ 8
D. Metode
Penulisan ...................................................................................................... 9
E. Sistematika
Penulisan ................................................................................................. 9
BAB
II PEMBAHASAN
A. Metode Berfikir
Ilmiah ............................................................................................. 11
1.
Pengertian Metode Ilmiah ................................................................................. 11
2.
Syarat-syarat Ilmu Pengetahuan ....................................................................... 12
3.
Model dan Kriteria Metode Berpikir
Ilmiah .................................................... 13
4.
Kelemahan-kelemahan Metode Berpikir
Ilmiah ............................................... 14
B. Metode
Berfikir Lainnya ........................................................................................... 15
1.
Metode Tenacity dan Metode Authority Ilmiah
............................................... 15
2.
Metode Apriori ................................................................................................. 16
3.
Metode Positisme .............................................................................................. 17
4.
Metode Kontemplatif ...................................................................................... 17
5.
Metode Dialektis ................................................................................................ 17
6.
Metodologi Al-Qur’an
................................................................................. 18
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................................ 25
B. Saran .......................................................................................................................... 25
DAFTAR
PUSTAKA ...................................................................................................... 26
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/pengembangan
pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan
pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada (Eman Sulaeman)
Berpikir ilmiah adalah metode berpikir yang didasarkan pada logika
deduktif dan induktif (Mumuh mulyana Mubarak, SE).
Metode
berpikir ilmiah tidak lepas dari fakta kejadian alam yang kebenarannya selalu
ada hubungannya dengan hasil uji eksperimental. Jika suatu teori tidak bisa
dibuktikan dengan uji eksperimental maka dikatakan bahwa teori itu tidak bisa
diyakini kebenarannya karena tidak memenuhi kriteria sebagai sains. (Goldstein, 1980). Inilah bagian kelemahan tentang
berpikir ilmiah.
Kelemahan
berpikir ilmiah lainnya seperti cakupan jangkauan kajiannya, dan asumsi yang
melandasinya, serta kesimpulannya bersifat relatif, metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada kajian
objek-objek material yang dapat diindera. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu
eksperimental. Secara entologi, ilmu
membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman
manusia. Hal inilah yang membedakan antara ilmu dan agama. (Adib M 2011, hal. 138-140).
Bagi yang berpedoman kepada Al Qur’an maka penggunaan metode
ilmiah tidaklah cukup. Keyakinan terhadap kebenaran wahyu tentu melebihi
kebenaran ilmiah . Brikut penulis menunjukkan contoh tentang pembuktian ilmiah
dari Al Qur’an adalah surat Ar Rahman ayat 37 yang artinya:
Kemudian
dalam Qur’an surat An Anbiya Allah berfirman yang artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya
langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami
pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
Maka mengapakah mereka tidak juga beriman”.
Kedua ayat ini di sampaikan oleh
pesuruh Allah yaitu Nabi Muhammad SAW sekitar 1400 tahun yang lalu yang
dasarnya tidak tahu baca tulis (umi), tapi kebenaran ini terjawab setelah abad
ke-21 ini.
Agar lebih jelasnya di dalam makalah ini akan dibahas mengenai metode
berfikir ilmiah dan metode berpikir lainnya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan metode berpikir ilmiah?
2.
Apa syarat-syarat ilmu pengatahuan itu?
3.
Apa model dan kriteria metode berpikir ilmiah?
4.
Apa kelemahan-kelemahan metode berpikir ilmiah?
5.
Bagaimana hubungan metode berpikir
ilmiah dengan metode berpikir lainnya?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dalam makalah adalah sebagai berikut:
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan dalam makalah adalah sebagai berikut:
1.
Agar dapat
memahami metode berpikir ilmiah
2.
Agar dapat mengetahui syarat-syarat
ilmu pengatahuan
3.
Agar dapat mengetahui model dan kriteria
metode berpikir ilmiah
4.
Agar dapat mengetahui
kelemahan-kelemahan metode berpikir ilmiah
5.
Agar dapat membedakan metode berpikir
ilmiah dan metode berpikir lainnya
C. Metode
Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah studi pustaka, yaitu mempelajari buku-buku sebagai referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian informasi dengan melalui jalur internet.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metode Penulisan
E. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. METODE BERPIKIR ILMIAH
A. METODE BERPIKIR ILMIAH
1.
Pengertian Metode Berpikir Ilmiah
2.
Syarat-syarat ilmu pengatahuan
3.
Model dan kriteria Metode Berpikir
Ilmiah
4.
Kelemahan-kelemahan Metode Berpikir
Ilmiah
5.
Metode berpikir lainnya
D.
METODE BERPIKIR LAINNYA
1.
Metode Tenacity dan Metode Authority
2.
Metode Apriori
3.
Metode Positisme
4.
Metode Kontemplatif
5.
Metode Dialektis
6.
Metodologi Al-Qur’an
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Berfikir Ilmiah
PEMBAHASAN
A. Metode Berfikir Ilmiah
1.
Pengertia Metode Berpikir Ilmiah
Berpikir ilmiah adalah metode berfikir yang di dasarkan
pada logika deduktif dan induktif (Mumuh mulyana Mubarak, SE). Berfikir ilmiah
adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris, dibahas
secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung
jawabkan. (Hillway, 1956).
Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/pengembangan
pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan
pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada (Eman Sulaeman)
Berpikir imiah bukanlah berpikir biasa. Berpikir
ilmiah adalah berpikir yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara yang
berdisiplin, di mana seseorang yang tidak akan membiarkan ide dan konsep yang
sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah namun semuanya itu diarahkan pada
satu tujuan tertentu. Tujuan tertentu dalam hal ini adalah pengetahuan.
Berpikir keilmuan, atau berpikir sungguh-sungguh adalah cara berpikir yang
didisiplinkan dan diarahkan kepada pengetahuan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
disebutkan, bahwa metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk
mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan) atau cara kerja yang bersistem untuk
memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Terhadap cara untuk mengetahui dan
memahami sesuatu, Babbie (1992) berpendapat: “science is method of inquiry-away of learning and knowing things about
the world around us”. Dengan demikian untuk memahami dan mempelajari
sesuatu yang terjadi di sekeliling kita terdapat banyak cara. Walaupun demikian
ilmu tetap memiliki ciri tertentu, yang sesungguhnya ciri tersebut berada
dalam berbagai aktivitas yang dilakukan
sehari-hari. (Adib, 2011, hal. 130-135)
2.
Syarat-syarat ilmu pengatahuan
Ada persyaratan ilmiah
sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu
banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
a.
Objektif
ialah kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat
hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Dalam mengkaji objek,
yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek,
sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek
peneliti atau subjek penunjang penelitian.
b.
Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang
berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang
digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
c.
Sistematis
ialah mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan
terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu
sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu menjelaskan
rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.
d.
Universal
ialah kebenaran yang bersifat umum. Contoh: semua segitiga bersudut 180º.
Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu
sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan
ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk
mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks
dan tertentu pula.
3.
Model dan Kriteria Metode Berpikir
Ilmiah
Ditinjau dari
sejarah berpikir manusia, terdapat dua pola berpikir ilmiah. Yang pertama
adalah berpikir secara rasional, di mana berdasrkan paham rasionalisme ini, ide
tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Dengan kata lain, ide tentang
kebenaran, yang menjadi dasar bagi pengetahuan, diperoleh lewat berpikir
rasional, terlepas dari pengalaman manusia. (Bayu'zu
2011, hal. 1)
Cara berpikir ilmiah yang
kedua adalah empirisme. Berbeda dengan orang-orang yang berpikir secara
rasional. Menurut orang-orang yang berpaham empirisme ini, pengetahuan ini
tidak ada secara apriori di benak kita, melainkan harus diperoleh lewat
pengalaman.
Adapun kriteria metode
berpikir ilmiah antara lain: (1) berdasarkan fakta; (2) bebas dari prasangka;
(3) menggunakan prinsip-prinsip analisis; (4) menggunakan hipotesis; (5)
menggunakan ukuran objektif; (6) menggunakan teknik kuantifikasi. (Adib, M. 2011, hal. 137-138)
4.
Kelemahan-kelemahan Metode Berpikir
Ilmiah
Pertama, metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada penuh kajian
objek-objek material yang dapat diindra. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu
eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam
kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang
asli. Melakukan pengamatan terhadap materi tersebut serta berbagai kondisi dan
faktornya yang ada, baik yang alami maupun yang telah mengalami perlakuan. Dari
proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa fakta
material yang dapat diindera.
Kedua, metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapuasan seluruh
informasi sebelumnya tentang objek yang dikaji, dan mengabaikan keberadaannya.
Kemudian memulai pengematan dan percobaan atas materi..Setelah
melakuakan pengamatan dan percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan
komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan
berdasarkan sejumlah premis ilmiah.
Ketiga, kesimpulan yang didapat
ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).
Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam
literatur lain. Misalnya, “Pertama-tama ilmu ilmu menyadari bahwa masaslah yang
dihadapinya adalah masalah yang bersifat kongkrit yang terdapat dalam dunia
fisik yang nyata. Secara entologi, ilmu membatasu dirinya pada pengkajian yang
berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang membedakan antara
ilmu dan agama. Perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga
menyebabkan perbedaan metode dalam memecahkan masalah tersebut”.
Dinyatakan pula, “proses
pengujian ini tidak sama dengan pengujian ilmiah yang berdasarkan kepada
tangkapan pancaindera, sebab pengujian kebenaran agama harus dilakukan oleh
seluruh aspek kemanusiaan kita seperti penalaran, perasaan, intuisi, imajinasi
disamping pengalaman”. Demikian juga halnya dengan bidang bidang sastra yang
termasuk dalam humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam
penyusunan tubuh pengetahuannya”.
B. Metode
Berpikir Lainnaya
1. Metode
Tenacity dan Metode Authority
Metode ini mengajarkan agar
seseorang bertahan dengan pendiriannya. Tiap orang menurut metode ini harus
memegang teguh apa yang ia yakini. Secara praktis metode ini menjanjikan
ketenangan dan keamanan. Jika seseorang dibiarkan hidup dan berpikir menurut
keyakinannya, maka ia akan puas dengan dirinya sendiri. Namun metode ini
merupakan pendekatan yang paling miskin dari semua jenis metode karena dengan
metode ini seseorang tidak diajak untuk
berpikir dan mengajukan pertanyaan apa pun terhadap keyakinan-keyakinannya. Metode
yang lebih baik dari method of tenacy adalah method of authority (kebenaran berdasarkan otoritas). Kebenaran menurut metode ini berasal dari
institusi yang memiliki wewenang untuk mengajarkan banyak orang untuk beripkir
sendiri dan melarang setiap penelitian pribadi. Institusi cenderung menuntut
ketaatan individu. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah bahwa secara
intelektual setiap orang adalah hamba institusi. Dengan metode ini seseorang
sudah mulai mempertanyakan sesuatu, namun ia tidak mau memikirkan jawabannya.
Otoritas masih masih menjadi sumber utama bagi jawaban atas
pertannyaan-pertanyaan.
2. Metode
Apriori
Menurut metode ini seseorang dapat
menerima pandangan apa pun jika sesuai dengan pikirannya tanpa harus dibuktikan
dengan fakta-fakta empiris yang dapat diamati. Metode ini jelas lebih baik
dibandingkan metode pertama dan kedua, meskipun harus diakui metode ini gagal
menjelaskan fakta-fakta empiris dengan baik. Dengan metode ini setiap orang
mulai mengajukan pertanyaan, menemukan jawabannya sendiri tetapi jawabannya
tidak mendasar. Hal ini disebabkan
terutama karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sebagian ditentukan oleh
selera pribadi.
Metode ini membiarkan alam
menampakkan diri dan berbicara kepada ilmuwan. Alam yang diselidiki adalah
dunia yang real, yang sama sekali tidak bergantung pada pandanga kita terhadapnya, dan memiliki
hukum-hukum yang tetap. Sementara itu, setiap orang dapat mengenalnya karena ia
memiliki pemikiran sendiri dan pengalaman yang memadai. Maka dengan metode
ilmiah, seseorang diajak untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri
jawabannya berdasarkan pengalamannya tentang alam. (Adib M, 2011, hal. 90-91)
3. Metode
Positisme
Metode
ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-18570. Metode ini berpangkal dari apa
yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengesampingkan segala
uraian di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia mrnolak metafisika,
Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala.
Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi
kepada bidang gejala-gejala saja.
4. Metode
Kontemplatif
Metode
ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan,
sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda, harusnya dikembangkan
satu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh
lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontenplasi seperti yang
dilakukan oleh Al-Gazali.
5. Metode
Dialektis
Dalam
filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai
kejernihan filsafat. Metode ini
diajarkan oleh Socrates. Namun Pidato mengartikannya diskusi logika. Kini
dialekta berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode
penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang
terkandung dalam dan metode peraturan, juga analisis sistematika tentang ide
mencapai apa yang terkandung dalam pandangannya.
Hegel
menggunakan metode dialektis untuk menjelaskan filsafatnya, lebih luas dari
itu. Menurut Hegel dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dan dialektika di
sini berarti hal-hal yang berlainan seperti :
1.
Diktator. Di sini manusia diatur dengan baik, tapi eka
tidak punya kebebasan (tesis).
2.
Keadaan di atas
menamakan lainnya yaitu negara anarki (anti tesis) dan negara-negara tanpa
batas, tetapi hidup dalam, kekacauan.
3.
Tesis dan anti
tesis ini disintesis yaitu, negara demokrasi. Dalam bentuk ini kebebasan warga
negara dibatasi oleh undang-undang dan hidup masyarakat tidak kacau. (Namja, 2012)
6. Metodologi Al-Qur’an
Sebagaimana kita ketahui bahwa isi Al-Qur’an ini ada
dua, yaitu Nur dan Dzulumat. Mari kita bahas tentang model berpikir Dzulumat
sebagai tantangan.
Arti
Surat Al-Baqarah ayat 17 menjelaskan metodologi Al-Qur’an sebagai berikut:
“Perumpamaannya mereka yang Dzulumat itu panaka
orang yang menyalakan api unggun di malam hari. Maka manakala api telah
menyinari sekelilingnya, Allah sepertihalnya memadamkan sinar terang , (begitu
menghapuskan Nur menurut Sunnah Rasul-Nya, terhadap mereka yang tenggelam
dengan angan-angan subyektivismenya) dan membiarkan mereka tenggelam kedalam
pilihan Dzulumat menurut Sunnah Syayathin sehingga mereka tidak lagi
berpandangan dengan Nur menurut Sunnah Rasul-Nya dalam kehidupan”.
Jadi berdasar Al-Qur’an ada dua metode ilmu yaitu
metode Nur lawan metode Dzulumat. Methode Dzulumat itu terbagi dua juga yaitu
Idealisme dan Naturalisme.
Idealisme : Plato sebagai pencipta idealisme digambarkan dalam bukunya Ahli-Ahli Pikir Besar tentang Negara dan Hukum, Penyususn Von Schmid Penterjemah :
Idealisme : Plato sebagai pencipta idealisme digambarkan dalam bukunya Ahli-Ahli Pikir Besar tentang Negara dan Hukum, Penyususn Von Schmid Penterjemah :
Pada permulaan buku ketujuh tentang “Negara”, Plato
telah mencoba menerangkan sekali lagi dengan jelas secara ibarat yang indah
sekali, teorinya tentang ilmu pengetahuan yang telah diuraikan lebih dahulu
dalam bukunya yang keenam. “Disitu ia membayangkan manusia di dunia ini sebagai
makhluk yang sejak lahirnya dirantai dalam sebuah gua yang dimasuki cahaya
matahari sedemikian rupa, sehingga makhluk itu tidak dapat bergerak dan hanya
dapat mengarahkan pandangannya ke jurusan gua itu saja. Dibelakang makhluk yang
dirantai itu, diluar gua tersebut, menyala api dan antara api dan gua itu
bergerak disepanjang jalan yang terjal, dibelakang subuah tembok, orang-orang
yang memikul barang-barang sedemikian rupa sehingga hanya barang-barang itu
saja yang tampak dari sebelah tembok tersebut. Barang-barang yang
bermacam-macam itu melemparkan bayang-bayangnya kedalam gua. Bayang-bayang itu
adalah satu-satunya yang dapat dilihat oleh orang-orang yang dirantai itu,
sehingga mereka akan menganggapnya sebagai kenyataan yang sebenarnya. Dengan
orang-orang yang dirantai itulah kita harus menyamakan menusia mengenai
hubungannya dengan dunia sekitarnya.
Selanjutnya Socrates menggambarkan bagaimana manusia
akan berbuat, bila mana ia telah dibebaskan dari rantainya tiba-tiba
ditempatkan diluar gua berhadapan dengan cahaya dan gejala-gejala sesungguhnya
itu. Bagaimana ia pada awalnya silau sama sekali, lambat laun harus membiasakan
diri pada keadaan baru itu dan cenderung menganggap bayang-bayang dalam gua itu
sebagai yang lebih mendekati yang sebenarnya dari pada kenyataan baru itu, dan
berangsur-angsur akan mengerti hubungan yang ada antara bayangan-bayangan dalam
gua itu dan kenyataan yang ada di luar gua tersebut. Baru kemudian dia akan gembira
tentang hal-hal yang baru itu dan tidak akan menghiraukan lagi fikiran
orang-orang yang hanya melihat dalam gua saja, demikian pula ia tidak
menghiraukan lagi pendapat-pendapat mereka yang berbeda satu sama lain tentang
semuanya yang terjadi disana. Jikalau ia ditempatkan kembali di dalam gua itu,
mula-mula akan lebih kurang penglihatannya dari yang lain-lain, oleh karena
penglihatannya dirintangi oleh kegelapan, dan ia akan dihina, serta
keterangannya tentang kejadian-kejadian yang sebenarnya akan ditertawakan orang
saja, sehingga ia akan ingin kembali ke dunia luar gua itu, sedangkan
orang-orang yang lain tak akan sudi mengikutinya oleh karena menganggapnya
orang yang sama sekali sudah terpesona.
Gua dibawah tanah itu adalah dunia yang dapat dilihat,
api yang menyala itu adalah cahaya matahari, sedangkan orang tawanan yang
membumbung ke dunia atas dan melihatnya adalah jiwa yang naik ke dunia
pengertian.
Dalam dunia-jiwa yang tinggi dan dikala itu Plato berusaha membentuk susunan serba cita yang logis yang dapat diperolehnya dengan jalan uraian-uraian dan dialektik.
Dalam dunia-jiwa yang tinggi dan dikala itu Plato berusaha membentuk susunan serba cita yang logis yang dapat diperolehnya dengan jalan uraian-uraian dan dialektik.
Singkatnya Idealisme satu metode yang tidak
mempercayai kenyataan yang dihadapinya. Bagi Idealisme kebenaran itu tidak
terletak pada materi, tapi kebenaran itu hanya ada pada idea atau cita diluar
alam yang nyata ini.
Naturalisme : Apa yang digambarkan oleh Bung Hata sebanrnya itulah metode Naturalisme, hanya dengan menggunakan istilah yang berbeda tapi maksudnya sama. Pandangan Naturalisme ini terbagi dua yaitu Macro atomisme dan Micro atomisme.
Naturalisme : Apa yang digambarkan oleh Bung Hata sebanrnya itulah metode Naturalisme, hanya dengan menggunakan istilah yang berbeda tapi maksudnya sama. Pandangan Naturalisme ini terbagi dua yaitu Macro atomisme dan Micro atomisme.
Macro atomisme adalah pandangan tehadap alam besar,
dimana pandangan ditujukan kepada benda-benda langit kemudian ditarik
kesimpulan bahwa alam hagad raya ini beredar demikian tertibnya, masing-masing
planet beredar menurut garis edarnya masung-masing. Dari hasil pengamatan ini
melahirkan pandangan hidup Individualisme yaitu kesimpulan bagi kehidupan
social manusia jika mau beres masing-masing orang atur dirinya sendiri, jangan
usil orang lain. Itulah sebabnya dalam kenyataan kita lihat bahwa ada orang
Islam, tapi hidupnya individu, tidak peduli terhadap sesama manusia.
Micro atomisme adalah pandangan terhadap alam kecil
atau alam mikro. Pandangan Micro atomisme ditujukan kepada tubuh manusia
diselidiki yaitu pandangan ditujukan terhadap bagian-bagian dari tubuh manusia,
sehingga kesimpulannya adalah tubuh manusia itu terdiri bagian terkecil yaitu
cel yang diorganisir dalam klas-klas. Ada klas kepala, ada klas tangan ada klas
mata, ada klas kuping, klas mulut, klas kaki dan sebagainya. Namun dari semua
klas itu yang paling berkuasa adalah klas otak. Dibuktikan jika klas perut
ingin mengelaurkan air seni, maka lewat urat saraf dikontek ke otak melalui
hati, maka semua klas yang ada pada tubuh itu harus tunduk pada perintah otak,
Ketika masuk WC, walaupun klas hidung protes karma bau WC, tapi tidak dapat memisahkan diri dari tubuh yang satu itu.
Ketika masuk WC, walaupun klas hidung protes karma bau WC, tapi tidak dapat memisahkan diri dari tubuh yang satu itu.
Dari hasil pengamatan Micro Atomisme itu maka
lahirlah kehidupan kasta, yaitu kehidupan menurut klas manusia. Pandangan hidup
ini disebut dengan istilah Kolektivisme.
Methode NUR menurut sunnah Rasul, memberikan jawaban
yang telak terhadap metode Dzulumat, bahwa manusia itu tidak bisa apa-apa
selain mencontek yang sudah ada. Dengan bahasa yang extrim, manusia itu hanya
bisa menjadi maling Ilmu dari Ajaran Allah yang Nur menurut Sunnah Rasul-Nya.
Seluruh ayat Al-Qur’an adalah bersudut Nur yaitu
dari Allah untuk menerangkan alam semesta yang tergantung pada kepastian Allah.
Itulah sebabnya kenapa Bung Hata mengatakan bahwa perbedaan antara Ilmu dan Agama ialah bahwa agama itu masalah hati sedangkan Ilmu masalah otak.
Itulah sebabnya kenapa Bung Hata mengatakan bahwa perbedaan antara Ilmu dan Agama ialah bahwa agama itu masalah hati sedangkan Ilmu masalah otak.
Bagi manusia yang belum kenal metode Nur, pandangan
ini di-iyakan. Padahal Agama itu arti sebenarnya A=tidak GAMA = kacau jadi
agama adalah satu system hidup yang tidak kacau. Jikalau pengertian Agama
seperti itu, ada kemungkinan bisa dipakai untuk menterjemahkan kata AD-DIIN.
Tapi kalau agama sama dengan kepercayaan, yah pastilah seperti apa yang dianut
oleh Bung Hata tersebut.
Kesimpulan yang dapat kita tarik, bahwa sebenarnya
Al-Fatihah sebagai pandangan umum jika kita mau pinjam istilah metode deductif maka setiap membaca
surat Al-Fatihah maka kita berada pada pada sudut memandang secara umum yang
perinciannya ada pada isi Al-Qur’an semuanya.
Sebaliknya jika kita sedang membaca surat-surat
dalam al-Qur’an maka perlu disadari bahwa kita memahami pada bagian demi
bagian, yang kalau mau meinjam istilah metode
inductif maka kita sedang berada pada pandangan satu persatunya.
Namun baik Al-Fatihah, maupun Al-Qur’anul’adhiim
dua-duanya harus ayat-ayatnya dari Allah untuk menerangkan alam semesta yang tergantung
pada Kepastian Allah. Konkritnya, semua ayat al-Qur’an harus dalam posisi NUR
yaitu segitiga ABC dimana sudut A adalah Allah sebagai Subjek, sudut B adalah
Al-Qur’an dan sudut C adalah sudut alam semesta yang tergantung pada kepastian
Allah. Menjadi pertanyan bagi kita
bagaimana dengan Ilmu Tauhid? Ayat-ayat Al-Qur’an dari Allah kemudian mereka balikkan
untuk membicarakan Allah adalah non ilmiyah.
Surat Yunus ayat 5 menegaskan :
Artinya:
“Dia (Allah) yang sepertihalnya membikin matahari memancarkan sinar terang dan rembulan memntulkan sinar terang (mencapai bumi pada permukaan malam kelam) yakni Dia memastikan yang demikian menjadi berbagai posisi guna memberikan satu ilmu tentang Kalenderiasi dan Matematika dimana Allah tidak menciptakan demikian kecuali menjadi obyektif ilmiyah, begitu menurunkan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul ini guna mengklasifikasikan pembuktian-pembuktian ilmiyah bagi golongan manusia yang mau memiliki ilmu agung”
“Dia (Allah) yang sepertihalnya membikin matahari memancarkan sinar terang dan rembulan memntulkan sinar terang (mencapai bumi pada permukaan malam kelam) yakni Dia memastikan yang demikian menjadi berbagai posisi guna memberikan satu ilmu tentang Kalenderiasi dan Matematika dimana Allah tidak menciptakan demikian kecuali menjadi obyektif ilmiyah, begitu menurunkan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul ini guna mengklasifikasikan pembuktian-pembuktian ilmiyah bagi golongan manusia yang mau memiliki ilmu agung”
Dari surat Yunus ayat 5 diatas dapat kita sket segitiga
ABC, dimana Allah telah mencipta Matahari bulan dan Bumi itu dilambangkan pada
sudut A sedangkan Al-Qur’an ada pada sudut B dan alam semesta ada pada sudut C.
Dipermukaan gelap ada juga segitiga BDC yaitu segitiga bayangan yang berporos
kepada subyektivisme manusia yang oleh Plato dilambangkan dalam gua. Inilah
sandiwara kehidupan manusia, Nur lawan Dzulumat diatas satu panggung kehidupan
alternative manusia. Sekaligus menjadi jawaban bagi kita, kenapa jika terjadi
gerhana, Mukmin/Muslim disuruh shalat oleh Allah, karena pada waktu gerhana
posisi Matahari, Bulan dan Bumi ada pada satu garis sehingga terjadi kegelapan
sistemik, maka Mukmin/Musim disuruh shalat sebagai satu jawaban, biarpun alam
pada posisi Dzulumat, tapi saya tetap pada posisi Nur Menurut Sunnah
Rasul-Nya. (Hatta, 2010)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
A. Kesimpulan
Pada dasarnya berfikir ilmiah
adalah berfikir yang logis dan empiris.yang dibahas secara mendalam berdasarkan
fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Namun berpikir ilmiah memiliki kelemahan mencakup
jangkauan kajian, asumsi yang melandasi, serta kesimpulannya bersifat
relatif. Metode ilmiah tidak dapat
digunakan kecuali pada kajian objek-objek material yang dapat diindera.
B. Saran
Dalam melakukan sebuah penelitian,
sebaiknya digunakan metode yang tepat. Salah satu metode yang sering digunakan
adalah metode ilmiah. Dengan metode ini dapat mengungkapkan dan mengembangkan
ilmu. Namun bukan berarti kita mengabaikan metode ilmu yang lain yang keberadaanya merupaka sebuah pondasi
keyakinan seorang manusia yang secara
pelan-pelan kebenaran ilmiahnya sudah terungkap satu demi satu. Contohnya
tentang kejadia alam semesta beserta isinya.
DAFTAR PUSTAKA
Adib M, D. M. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Kanisius (Anggota IKAPI).
Adib,
D. H. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bayu'zu.
(2011, Desember). Definisi Ilmu Pengetahuan. Dipetik Februari Kamis,
2013, dari http://tugasteknikmesin.blogspot.com.
Goldstein,
M. G. (1980). How We Know. New York: Exploration of the Scientific
Process.
Hatta,
M. (2010, Februari). Metode Ilmu. Dipetik Maret 1, 2013, dari
http://www.metodeilmu.blogspot.com/
Ilmiah,
G. (2012, Maret). Definis Berpikir Ilmiah. Dipetik Maret 2013, dari
http://galeriilmiah.wordpress.com
Moh.MA,
A. D. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Namja,
A. (2012, Oktober). Shvoong.Com. Dipetik Maret 2013, dari
http//www.id.ahvoong.com
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking